( Sky on the Plane )
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Aga kareba...semoga kareba Madeceng...Aminnnn!!, Kangen rasanya tidak menyapa semua teman2 di blog ini...Kisah berikut saya kutip dari seseorang dan saya harap bisa jadi pencerah buat kita semua dalam menghadapi hidup. Tidak ada yang ingin hidup susah tapi dunia ini terus berputar, dan apa kita bisa bertahan di kala kita berada dibawah???
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja
siap menjadi orang susah.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan.
Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh
orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko
sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus
dibangun. Untuk itu, jiwa butuh "imunisasi".
Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan.
Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan,
tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.
Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain.
Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa
tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan
hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan
krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang
bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan
banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup
prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun
mimpi ingin lepas dari rasa kapok
menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun
dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat
(perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada
prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea
lebih pesat ketimbang bangsa
sepantar karena memiliki "virus" n-Ach (need-for-Achievement) yang tinggi.
"Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan.
Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan
keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu juga
hidup susah.
Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan
gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan
stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih
hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus
memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan
adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di pundak
setiap orangtua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan modern,
anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam
suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat
mogok di tengah hutan pada malam hari,
atau kehabisan makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar
mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi
darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan
banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin
banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar,
tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.
Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin.
Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab,
kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki
"virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai
"virus" n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari
cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan,
yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng
belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa
yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tak
semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya
terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang biasa
(mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin
lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang
perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di
mata Tuhan.
Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh super egonya)
dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin.
Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan menyuntikkan
"vaksin" hidup prihatin. Perlu pula penyubur super ego agar kendati
hidup susah masih merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda
memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah manapun
hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu legawa, bersyukur, dan
merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya
menjadi orang biasa.
Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis
Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan